Sabtu, 21 Februari 2015

Basketball Diary

Diposting oleh Itha Karla di 04.33
Reaksi: 
4 komentar
Masalah hati ibaratnya seperti bermain bola basket... ada yang namanya menyerang (offense), dan ada yang namanya bertahan (defense). Dalam hal bertahan saja kita sering melakukan kesalahan (defensive foul). Apalagi disaat kita menyerang (offensive foul).Saat kita masuk dalam kawasan hati orang lain (offense) otomatis terjadi sikap bertahan (defense). Bola (Perasaan) yang kita bawa haruslah melekat, jangan sampai terlepas (kena steal). Pun jangan terlalu lama berada di bawah ring (hati) karena akan terkena pelanggaran 3 detik (3 second violation).Semakin dekat pada ring (hati) semakin sulit memasukkan bola (perasaan). Memang prosentase keberhasilan lebih dari 90%. Tapi kita harus memperhitungkan bloking lawan. Semakin dekat sasaran semakin tinggi kemungkinan diblock. Disini teknik dribble, lay up, dunk, sangat diperlukan untuk penyelesaian akhir.Untuk sebagian pemain basket cara aman dan efisien adalah tetap berada di luar ½ lingkaran. Pada posisi itu kemungkinan diblock sangatlah kecil, kapan saja bisa shoot dengan harapan bisa memasukkan bola (perasaan) dan mendapat 3 poin (three point). Disinilah kesabaran diperlukan karena hanya memiliki satu kesempatan menembak (shoot). Ketepatan waktu, tempat pijakan (jump), teknik lecut (clutch) dan keyakinan (faith) diperlukan.Dan lihatlah apa yang akan terjadi !!!

Tulisan ini ku dapat dari seseorang yang kayaknya habis mengadakan riset tentang menembak cewek dengan judul, "Pengaruh Teknik Basket Terhadap Prosesi Penembakan". Walau aku gak ngerti basket, tapi aku merasa cukup terhormat diberi kesempatan untuk memposting tulisan ini (karena jadi ada yang bisa ditulis lagi di blog ini *efek males mikir* ).

Hmm jadi, mari kita mulai...
Sebagai penganut feminism, aku rasa teknik tersebut hanya bisa diterapkan oleh para cowok. Mungkin karena kebanyakan yang sering main basket itu para cowok, mungkin juga karena terknik ini belum mampu menembus batas masuk area emansipasi wanita di otakku.

Cowok emang bisa lebih mudah memepergunakan kesempatan untuk memainkan permainan demi mendapat yang diinginkan, beda dengan cewek yang cuma bisa ngarep, mentok-mentok kirimin signal. Sukur-sukur kalo cowoknya ngeh. Kalo gak yah cuma bisa dilewatin sambil mupeng doang.

Aku pernah terlibat obrolan sok serius dengan temanku tentang ini.
Di satu kesempatan di keramaian ruang tunggu bioskop, temanku yang cowok sibuk searching cewek-cewek kece yang lalu-lalang. Dia nunjuk satu cewek cantik, mulus, modis yang lagi jalan sama pacarnya yang juga cakep dan keren.
Dia bilang, "kami (para cowok) bisa aja ngedapetin tuh cewek, ato sekurang-kurangnya bisa ajak kenalan lah..."
Trus dia nunjuk pacarnya si cewek. Dia nanya, "tuh cowok cakep gak?"
Aku jawab, "lumayan, cakeplah...cucoklah..."
Trus dia nanya lagi, "Lo bisa gak kenalan, tanya namanya. Gw kasih 500rb sekarang juga."
Otakku mulai ngitung, tapi ternyata gak bisa nembus batas emansipasi di otakku. Dan 500rb itu pun lewat dengan tak ada penyesalan.
Dia ketawa menang, "itulah bedanya cewek ma cowok, cowok bisa saja dapet apa yang mereka inginkan kalo mau usaha. Kalo cewek mah kebanyakan mikir, ujungnya cuma bisa mupeng. hahahaa..."
Akupun tertawa getir sambil menyetujui.

Ya, ya... cowok memang diberi banyak kesempatan untuk bisa mengungkapkan perasaaan mereka, karena itu gak etis kalo cowok mempermainkan hati cewek. Masalahnya mereka punya kesempatan lebih besar untuk mengungkapkan perasaan dan bisa dapat apa yang mereka inginkan kalo mereka mau. Lha cewek, kalo udah jatuh cinta yang diliatnya itu cuma satu orang doang. Tapi semua tergantung karakter sih. Gak semua cowok itu brengsek dan gak semua cewek itu setia.




 

Itha's True Tale Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei