Minggu, 26 Juni 2011

Harus Senang Atau Sedih ?

Diposting oleh Itha Karla di 03.59
Reaksi: 
0 komentar
Kekhawatiran itu datang lagi. Tentang apa yang akan terjadi nanti yang tampak agak mengabur dalam  rencanaku.

Baru saja aku merasakan suasana kantor baru, mencoba berusaha sekeras-kerasnya untuk menyesuaikan dengan situasinya, mencoba menyelami pikiran bos yang sangat sulit ku pahami dan berusaha membuatnya senang walaupun aku tak senang, berusaha menahan hati untuk tidak menyerah dan tabah-setabah2nya untuk mendengarkan amarah yang kuterima dengan satu keharusan untuk terus tersenyum tanpa membantah (mungkin itu aturan yang berlaku secara tidak tertulis bagi sorang bawahan. Tersenyumlah dan tabahlah apapun yang terjadi, dan kau akan terlihat lumayan di mata bosmu yang galak – owhh aku tak berharap dia membaca tulisan ini -). 

Aku sebenarnya mengasihinya, belakangan aku sering melihat kebaikan dari tindakanya, tapi sayang bukan dari sifatnya. Mungkin memang karakternya seperti itu. Dan ku masih sering kecewa dan sakit hati karenanya. Aku berusaha untuk mengerti, tapi aku bukan malaikat yang dengan hati yang sabar dan mulia mendengarkan komentar2 pedas dengan senyum yang tulus mengatakan dalam hati “ aku tak apa-apa ”. Itu salah. Sungguh, aku “apa-apa”. Tak ingin juga terus bermuka manis namun menggerutu dalam hati. Munafik. 

Aku sempat berpikir untuk berhenti dan mencari pekerjaan lain. Jujur aku ingin bisa bekerja dengan baik, setidaknya bisa menjalankan tugas-tugasku. Tapi aku tak dibekali oleh cukup pengetahuan yang harus ku terapkan dalam pekerjaanku. Aku hanya dituntut untuk melihatnya bekerja, belajar memahami sendiri, dan berharap disulap menjadi orang yang pintar yang mengerjakan pekerjaan dengan baik tanpa kesalahan. Katakan aku bodoh tidak bisa belajar dengan cepat. Tapi kurasa perusahaan dimanapun memiliki perbedaan dalam bekerja. Mana mungkin orang yang tidak tahu apa2 bisa menjadi tahu dalam waktu singkat dengan melihat-lihat dan belajar dengan diri sendiri tentang apa yang tidak dia tahu ? itu seperti orang buta menuntun orang buta. Aku butuh bimbingan untuk bekerja, namun sangat sulit untuk mendapatkannya. Disaat aku bertanya, dia selalu marah sebelum memberiku sedikit petunjuk yang harus kuolah sedemikian rupa untuk berguna di hasil kerjaku. Aku jadi berpikir, apakah aku harus terus berusaha sendiri tanpa tuntunan dan menerima cercaan saat aku salah bekerja. Aku merasa ini tak adil.

Dalam waktu sebulan lebih sedikit aku agak sedikit mengerti dengan kondisi itu, namun aku harus mempersiapkan diri pada suatu perubahan lagi. Beberapa hari yang lalu aku di telepon oleh direksi menyampaikan kemungkinan yang hampir pasti bahwa bulan depan kantor kami akan pindah di luar kota. Memang pada waktu wawancara masuk aku telah diberitahu tentang hal ini. Kantornya akan pindah di Bitung dan mereka menyediakan rumah untuk tinggal disana. Artinya aku nginap di sana dari Senin sampai Kamis. Pada saat diwawancara aku menyanggupi untuk pindah karena kotanya hanya sekitar 1 -1 ½  jam dari Manado. Tapi saat itu aku belum mengenal si Bos dan bagaimana sifatnya dan aku tak menyangka secepat ini. Dan satu lagi yang paling ku takuti setelah aku merasakan menjalani pekerjaan selama ini, aku harus berhadapan dengan bos selama lebih dari 24 jam, bahkan 4 x 24 jam lebih. Oh Tuhan, 12 jam saja hampir membuatku seperti di dalam penjara, apalagi selama itu harus berhadapan dengannya. Mungkin aku bisa gila.
Tapi entahlah, dia tak setuju untuk pindah. Katanya dia lebih memilih untuk resign daripada kerja di sana. Aku seperti ada pencerahan. Kau tahu maksudku ? sesuatu yang mendekati kata “bebas”. Aku tak tahu harus sedih atau senang. Di satu sisi aku berpeluang untuk tak melihatnya jika yang dia katakan benar. Namun jika itu  terjadi aku harus jauh dari keluarga dan teman-teman dan menyesuaikan diri lagi.

Semoga ada jalan yang terbaik. 



Senin, 13 Juni 2011

Janganlah Kamu Menghakimi Maka Kamu Pun Tidak Akan Dihakimi

Diposting oleh Itha Karla di 08.29
Reaksi: 
2 komentar
Malam yang indah diiringi sedikit gempa menemaniku menghayati moment yang tepat untuk membuang sampah ini. Kebimbangan yang menghantui perasaan dan imanku. Entah untuk membuatku lebih bijak atau terlihat bodoh. Satu lagi masalah yang ingin ku raibkan dalam lembaran halaman blog ini. Setidaknya untuk mengurangi beban pikirku.

Aku punya teman, teman sepermainan dan sepelayanan sebut saja si G. Kami sama-sama melayani anak (sekolah minggu) di lingkungan kami. Satu hari dia melakukan hal yang tidak kami duga. Dia pergi dari rumahnya tanpa ada kabar. 2 hari saja namun mengejutkan orang sekompleks. Setelah berbagai cara kami dan keluarganya lakukan akhirnya dia pulang ke rumah. Banyak yang tak setuju dengan sikapnya. Begitu juga diriku. Sangat tak setuju !

Namun di satu malam setelah kejadian itu, teman sepelayananku yang lain (si I) mengatakan kepadaku agar aku bisa meminta si G agar tidak lagi melayani sebagai pelayan anak untuk sementara (yang tak ku tahu sementara itu sampai kapan). Dia mendapat masukan dari Penatua setempat untuk memberhentikan (sementara) si G karena tindakannya tidak layak dicontoh oleh anak-anak, yang bagi saya mungkin maksudnya tidak bisa dijadikan pelayan.

Sejujurnya pernyataan tersebut sangat mengusikku. Ini menyangkut layak atau tidaknya seseorang menjadi pelayan. Aku yang sangat meyakini bahwa Tuhan itu datang bukan untuk orang yang tidak berdosa, dan perintahnya untuk melayani dan memberitakan injil adalah untuk semua orang yang percaya padanya (bukan untuk semua orang yg tidak berdosa) karena kemanapun kita mencari, kita tak akan mendapatkan orang yang tak berdosa. Aku terusik karena aku pun orang berdosa, membuatku bertanya apakah aku layak untuk melayani ? Semua orang berdosa, lalu siapa yang layak untuk melayani ?

Kita dipilih Tuhan bukan karena kesempurnaan, tapi karena anugerah yang diberikan kepada kita yang percaya. Kepadaku, kepadanya, kepada semua orang yang tak sempurna dan juga mereka yang merasa sempurna. Karena anugerah itu kita dilayakkan. Bukan karena usaha kita. Bukan karena tindakan kita.
Aku teringat kisah Tuhan Yesus yang membela seorang pelacur yang dilempari batu oleh orang-orang. Dia melarang mereka dengan menyuruh orang yang tidak berdosalah yang layak melempar batu itu. Dan tak ada lagi yang melempar, karena semuanya berdosa.

Dalam Yohanes 12 : 47, Tuhan Yesus berkata : “Dan jikalau seorang mendengar perkataan-Ku tetapi tidak melakukannya, Aku tidak menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia melainkan untuk menyelamatkannya.” Dan Lukas 6 : 37 berkata “Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi...”

Tuhan jelas mengajarkan kita untuk tidak menghakimi. Dia saja yang tidak berdosa tidak datang untuk menghakimi tapi untuk menyelamatkan. Layakkah kita yang sama-sama berdosa untuk menghakimi sesama kita? Tuhan akan berkata “Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu , maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

Tuhan selalu memberi kesempatan untuk anak-Nya berbalik mengikuti Dia. Dia melihat hati, sesuatu yang tak dapat dibaca manusia. Dia sangat tau apa yang Dia lakukan dan aku tak ingin menutup jalan-Nya. Kalaupun ada yang memutuskannya, semoga dia bertindak dengan sangat  bijak dan dituntun oleh Tuhan sepenuhnya. Aku hanya bisa berdoa untuknya.

Karena aku telah menjawab dalam hati, jika Tuhan masih mengizinkan seseorang untuk melayani-Nya, aku tak punya hak apa-apa untuk menggagalkannya.

Mungkin di sini diam akan menjadi emas.


My New Job

Diposting oleh Itha Karla di 00.37
Reaksi: 
0 komentar
Hari ini diam2 aku ngblog dari kantor (kebetulan Si Bos gak Masuk). Akhirnya setelah berminggu-minggu :)

Setelah merasakan minggu2 pertama di kantor baru, aku sadar banyak sekali perbedaan yang harus ku pelajari. Bekerja di sini sangat beda suasananya. Aku harus banyak sekali belajar memahami pekerjaan dan terutama memahami karakter bos ku. Untuk yang satu ini sepertinya aku bisa mendeteksinya sejak awal ku masuk. Bosku yang baru sama sekali berbeda dengan yang sebelumnya.

Di minggu2 awal aku diperhadapkan dengan beban pikiran yang berat. Aku memaksa diriku untuk mengerti sesuatu yang benar2 asing untuk masuk dalam pikiranku. Bosku yang baru memiliki karakter yang tegas, pekerja keras, sangat menjujunjung tinggi norma2 kesopanan, dan yang paling penting harus selalu berhati-hati dalam menggunakan kata2 (jangan sampai dia marah). Sangat hati2 itulah yang kulakukan, namun ternyata itu tak cukup.

Aku sangat bingung dengan pekerjaanku, aku harus berusaha mempelajarinya tanpa diajarkan secara khusus karena si Bos sangat sibuk dan tak ada lagi yang bisa mengajarkanku selain dia, jika aku mengganggunya dengan pertanyaan yang dianggapnya tak penting (padahal sangat penting bagiku berhubung aku tak tahu apa2) dia pasti akan marah. Dia berharap aku dapat belajar dengan mengalir begitu saja. Ini sangat menyulitkanku, tak mungkin aku belajar sesuatu yang aku sendiri pun tak tau itu apa.

Aku berharap aku bisa mengetahui secepatnya. Karena aku sangat merasa bodoh ada di posisi ini. Semoga Tuhan menolongku.

Mohon doanya :(
 

Itha's True Tale Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei