Rabu, 16 Maret 2011

Masih Ada Sahabat Yang Setia

Diposting oleh Itha Karla di 17.54
Reaksi: 
Beberapa hari yang lalu aku diperhadapkan dengan berita duka lagi. Berita yang sangat mengejutkan dan membutku sempat berpikir hidup ini tidak terlalu adil. Ayah almarhumah temanku meninggal. Ya...ayah dari temanku yang meninggal tiga tahun lalu. Sedikit tentang temanku, dia gadis yang sangat baik dan pintar baik dalam pengetahuan maupun caranya bergaul. Teman-temannya banyak. Bahkan sampai saat ini kami masih mengenangnya di saat sedang ngumpul bareng dan teringat kebiasaan-kebiasaannya. Namanya Christi. Dia anak tunggal. Anak satu-satunya yang begitu disayang orang tuanya namun tak mambuatnya manja dan hidup dalam kefoya-foyaan. Sangat sayang kepada orang tuannya. Sangat akrab. Begitu juga untuk teman-temannya. Dia trsenyum, bersemangat, dan penuh canda dan tawa. Ketika dia meninggal begitu banyak orang yang berduka. Tak hanya tangisan keluargannya yang menghantarnya pergi, tapi tangisan kami, tangisan teman-temannya yang lain, dan yang lain lagi. Kista, liver....... entahlah apa yang menyebabkan begitu cepat dia dipanggil. Namun hal yang pasti Tuhan mengasihinya dan ingin dekat dengannya.

 waktu Bilble Camp di Tompaso
(Dari kiri ke kanan : Chilay, Christi, Aku, Iren, Michi, April, Echa, Sisca)



Pernahkah kau merasakan kesedihan saat ditinggalkan sahabat baik yang dianugerahkan Tuhan di tengah-tengahmu? Pedih... itu yang kami rasakan. Namun itu tak sebanding dengan kepedihan luar biasa yang dirasakan orang tuanya. Sejak kejadian itu mereka hidup dalam kesedihan. Awalnya kami sering mengunjungi mereka. Menghibur atau sekadar menemani mendengarkan kesesakan hati mereka. Kehilangan yang sungguh luar biasa. Yang jika ku pikir kalau ada di posisi itu dapatkah aku menguatkan diri... tahun lalu mereka pindah rumah ke kompleks sebelah tak jauh dari rumah kami dan tempat tinggalnya yang dulu. Mereka ingin memulai hidup baru dan melupakan kepedihan. Mereka tak tahan akan kenangan-kenangan yang ada di rumah itu, bahkan di kompleks kami. Terlalu banyak kenangan indah di rumah itu, dan juga kenangan-kenangan bersama kami. Bahkan ketika melihat kami, aku bisa melihat kedua pasang mata itu menahan kesedihan yang mendalam walaupun sudah berusaha untuk tersenyum. Mereka ayah dan ibu yang berusaha kuat, karena tak mau anaknya di atas sana sedih melihat mereka terus menangis.

Sekitar setahun mereka pindah, dan beberapa hari yang lalu aku mendengar kabar bahwa ayah Christi meninggal. Sangat sedih rasanya. Sebenarnya sejak kepergian temanku itu mereka belum bisa melupakan kesedihan itu. Om Itje (ayah temanku) jadi sakit-sakitan karena kesedihannya. Sementara tante Djein (ibu temanku) begitu sedih namun terus berusaha tegar dan saling menghibur. Betapa berat yang harus mereka alami. Dan kini, tante Djein harus sendiri. Temannya berbagi harus pergi selamanya menemani Christi disana.

Tak bisa kubayangkan kepedihan yang dia rasakan. Pasti sangat menyayat hati.  Saat menjabat tanganya malam itu, dengan penuh tangisan dia mengulurkan tangannya yang lunglai dan lemah seakan pasrah kepada keadaan. Dia menyebut nama Christi ketika melihat kami. Betapa bodohnya, kata-kata penghiburan yang telah kurangkai untuk kuucapkan seakan mentok di ujung lidah namun tak terucap. Aku memeluknya, dan hatiku yang berbicara mengucapkan betapa aku sangat berduka untukknya. Untuk kesedihan luar biasa yang dia alami. Bahwa aku mengasihinya. Terlebih Tuhan yang mengizinkan itu terjadi. Bahwa jika dia memerlukanku aku ada. Aku merasakan sebagian kecil dari pedihnya yang begitu besar. Saat berlalu dari hadapannya tenggorokanku bagai tercekat. Sebagian karena kematian itu, namun bagian yang lebih besar lagi karena kesedihan tante Djein yang diijinkan Tuhan untuk ditambahkan kedalam hatinya.

Aku sempat berpikir apakah Tuhan adil melakukan itu kepada seseorang yang sudah luar biasa sedih dengan kepergian anak tunggalnya, dan kini memanggil satu-satunya orang yang hidup bersamannya tempat dia membagi kesedihannya? Aku manusia, dan aku merasa ini tak adil. Namun aku sadar rencana Tuhan adalah yang terbaik walau dianggap salah oleh manusia.

Seperti Ayub yang begitu setia kepada Tuhan namun diberi ujian yang bertubi-tubi. Bahkan semua kesehatan, keluarga, sahabat, kekayaan diambil dari padanya. Namun dia tak meninggalkan Tuhan di tengah kesesakanya. Dia berdoa dan tetap dekat pada Tuhan. Tuhan juga tidak meninggalkannya Dia memuliakan Ayub, mengganti semua yang telah hilang dari padanya dengan berkali-kali lipat dari yang sebelumnya bahkan sukacita yang melimpah.

Itulah yang kudoakan, Tuhan memberikan tante Djein kekuatan, ketabahan dan penghiburan untuk terus berjuang menjalani hidupnya. Dan jika ada yang bisa kulakukan utuknya berikan aku kesempatan melakukannya. Tuhan memiliki rancangan terbaik untuknya dan pada saatnya akan memberikan sukacita yang berlimpah di hidupnya. Karena Dia sumber penghiburan sejati. Sahabat sejati yang tak pernah bosan mendengar curhatan sahabat-sahabatnya. Bahkan memberikan jalan keluar yang terbaik.


What a friend we have in Jesus, All our sins and griefts to bear
What a privilege to carry, Everything to God in prayer
Oh what a peace we often forfeit, Oh what needless pain we bear,
All because we do not carry, Everything to God in prayer

Have we trials and tempations? Is there trouble anywhere?
We should never be discouraged! Take it to the Lord in prayer
Can we find a friend so faithful, Who will all our sorrows share?
Jesus know our every weakness, Take it to The Lord in prayer

Are we weak and heavy laden, Cumbered with a load of care?
Precious Saviour, still our Refuge, Take it to the Lord in prayer
In His arms He’ll take and shield thee, Thou wilt find a solace there

Sperti dalam lagu tadi. Tuhan adalah sahabat dekat dan akrab yang selalu mempunyai waktu untuk duduk dengan tenang dan mendengarkan isi hati kita dengan penuh pengertian. Yesus adalah sahabat yang sejati yang tak ada bandingannya. Ketika orang-orang yang kita cintai pergi, tak ada lagi tempat berbagi, Yesus justru mendekati kita, siap mendengar keluh kesah kita. Karena itu tak sia-sia jika kita berbicara kepada Yesus. Dialah sahabat sesungguhnya. Serahkan pada-Nya segala beban yang menindih hidupmu. Dia akan ganti segala duka menjadi sukacita.


 


2 komentar:

Toyin O. on 17 Maret 2011 14.30 mengatakan...

I love that song, Jesus is the best friend anyone can ask for:)

Switha Nothing on 17 Maret 2011 19.18 mengatakan...

Yes, i love that too... :D
Jesus is the best friend we had who can understand and give us a way out whatever problems we face.
Thanks for the comment :)

Posting Komentar

 

Itha's True Tale Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei